Showing posts with label ARTIKEL SISWA. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL SISWA. Show all posts

Friday, September 6, 2013

Eid For Corruptor

Dawut Maulan . S.PdTeachers MAN II Kediri Kediri
Eid traditions are typical in this country is halal bi halal . This tradition is indeed a very good tradition , since he can equip every believer kefitrahan after going through the whole process of servitude during the month of Ramadan . Because back guarantee is only related to the nature of the vertical dimension ( habl min Allah ) .Repentance of a believer who submitted to Allah in the month of Ramadan through a series of obligatory worship and circumcision only about mistakes and sins to God . He said God only forgives sins associated with Him lang . While the mistakes and sins of the horizontal dimension ( habl min al - nas ) is suspended until the person concerned to solve .Herein lies the importance of halal bi halal tradition , that is, as an effort to rid yourself of guilt and sin horizontal . With Eid berhalal then every believer would really be able to rise to the level of the class of people who returned to their nature and the people who were lucky again happy ( terminal a'idin wal faizin ) .However , noteworthy is the implementation of halal bi halal itself. Conducting a halal bi halal bermotiv only preserve the tradition , for example . So he did not get anything other than the fact that the tradition is still preserved , in which he took part in the preservation .There are just flowing like water , lost in the euphoria Greetings , coupled premises without effort rid yourself of guilt and sin horizontal . The pattern that seems to be the choice of the majority people of believers in the country, including the criminals and the corrupt . If so , then far from apai . Eid means done yet is able to function as a complement to achieve kefitrahan .As has been advised that there are mistakes that we do to others or otherwise are easily forgiven and not easy for the unforgivable . The former is usually associated with small errors either intentional or not . While the latter is related to big things and principled . Of course this latter error can not be done only with Greetings in the absence of a remedy nayata .At this point , we should probably reread the Islamic doctrine of repentance , for the Eid gathering was none other than a form of repentance . Repentance literally means the back . Humans are basically good , with repentance he will come back better , after all this time fallen into disrepute .Also there are countless repentance serious / sincere ( repentance NASHUHA ) , there is not . To assess the level of seriousness there are at least four criteria that must be met , namely 1 ) ​​leave the mistakes and sins done with a full awareness of the ugliness , 2 ) sincere regret , 3 ) promising not to repeat them , and 4 ) replace it with behavior good .The fourth criteria apply to both vertical and harizontal sin . Repent for the first error only requires an apology ( forgiveness ) to God . But both seek forgiveness for wrongs is not enough , it must be coupled with a complete settlement of the rights of others who become their responsibility .Repentance is a thief for example , in addition to must beg forgiveness of Allah , he should also apologize to all victims with or without conditions , and return all the loot . If the victim is dead then their heirs resolved . And if there is not also then be spent to benefit the people . Similarly, criminals , since they both thieves , .Widths for corruption is nothing but the moment to repent . Hence the Eid berhalal he should reveal in corrupt accompanied by the return of the entire proceeds of corruption , as well as helped settle the entire socio- economic impacts caused by these actions . So it is not just enough with an apology and keep damage to the system caused by his actions .Do look heavy , but worth the gravity of the crimes . And this is a high price to pay in order to achieve ultimate happiness both in this world and in the Hereafter , as contained in do'anya after every prayer ( Rabbana atina hasanah fi ad- dunya wa fi al - akhirati hasanah ) .But it's not quite burdensome prerequisites that make the corruptors are reluctant to repent . Ketercorengan " self-esteem " in front of the community beat shyness ( haya ' ) before Allah . Alpa on prohibitions that did not sell his religion for the sake of mere worldly , and about personal responsibility before Him .The last assertion affirms the corruptors naive " life is a game . " Instead of revealing their current religious consciousness and berhalal Eid Eid . They even made ​​it part of his game . Logic back to nature as a momentum to feel that he has really clean , including from the evil of corruption . So after Eid corruption became more frenzied .

Sunday, August 25, 2013

Lebaran Bagi Koruptor





Dawut Maulan. S.Pd
Guru MAN Kediri II Kota Kediri

Tradisi berlebaran yang khas di negeri ini adalah halal bi halal. Tradisi ini sungguh merupakan tradisi yang sangat baik, mengingat ia dapat melengkapi kefitrahan setiap mukmin yang setelah melalui proses penghambaan yang utuh selama bulan Ramadan. Sebab jaminan kembali pada fitrah tersebut hanya terkait dengan dimensi vertikal (habl min Allah).
Taubat seorang mukmin yang diajukan kepada Allah di bulan Ramadan melalui serangkaian ibadah wajib dan sunat hanya menyangkut kesalahan dan dosa kepada Allah. Tegasnya Allah hanya mengampuni dosa yang terkait lang denganNya. Sementara kesalahan dan dosa yang berdimensi horizontal (habl min al-nas) masih ditangguhkan sampai orang yang bersangkutan menyelesaikannya.
Di sinilah letak nilai pentingnya tradisi halal bi halal, yaitu sebagai suatu upaya membersihkan diri dari kesalahan dan dosa horizontal. Dengan berhalal bi halal maka setiap mukmin akan benar-benar mampu naik tingkat ke dalam golongan orang-orang yang kembali pada fitrahnya dan orang-orang yang beruntung lagi bahagia (minal a’idin wal faizin).
Namun, yang patut diperhatikan adalah pelaksanaan halal bi halal itu sendiri. Seorang yang melakukan halal bi halal hanya bermotiv melestarikan tradisi, misalnya. Maka dia tidak mendapatkan apa-apa selain kenyataan  bahwa tradisi itu masih tetap lestari, di mana dia turut ambil bagian dalam pelestarian itu.
Ada yang hanya mengalir bagaikan air, hanyut dalam eforia bermaaf-maafan, tanpa dibarengi denga upaya membersihkan diri dari kesalahan dan dosa horizontal. Pola ini yang nampaknya menjadi pilihan mayoritas umat mukmin di negeri ini, termasuk para penjahat dan para koruptor. Jika demikian halnya, maka jauh panggang dari apai. Artinya halal bi halal yang dilakukan belum mampu berfungsi sebagai pelengkap untuk mencapai kefitrahan.
Sebagaimana telah menjadi maklum bahwa ada kesalahan-kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain atau sebaliknya yang mudah dimaafkan dan tidak mudah untuk dimaafkan. Yang pertama biasanya terkait dengan kesalahan-kesalahan kecil baik yang disengaja atau tidak. Sementara yang kedua terkait dengan hal-hal besar dan prinsipil. Sudah tentu kesalahan yang kedua ini tidak bisa selesai hanya dengan bermaaf-maafan tanpa adanya suatu upaya penyelesaian yang nayata.
Sampai di sini, kiranya patut kita membaca kembali ajaran Islam tentang taubat, sebab halal bi halal itu tidak lain adalah salah satu bentuk taubat. Taubat secara harfiah berarti kembali. Manusia yang pada dasarnya baik, dengan bertaubat dia akan kembali baik, setelah sekian lama terjerumus dalam keburukan.
Taubat juga ada yang terhitung serius/tulus (taubat nashuha), ada yang tidak. Untuk menilai tingkat keseriusannya paling tidak ada empat kreteria yang harus dipenuhi, yaitu 1) meninggalkan kesalahan dan dosa yang diperbuat dengan penuh kesadaran tentang keburukannya, 2) bersungguh-sungguh menyesalinya, 3) berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, dan 4) menggantinya dengan perilaku yang baik.
Keempat kreteria ini berlaku baik bagi dosa vertikal maupun harizontal. Bertaubat untuk kesalahan pertama hanya membutuhkan permohonan maaf (istighfar) kepada Allah. Tetapi untuk kesalahan yang kedua istighfar saja tidak cukup, harus dibarengi dengan penyelesaian secara tuntas hak-hak orang lain yang menjadi tanggungjawabnya.
Taubat seorang pencuri misalnya, di samping harus memohon ampunan kepada Allah, dia juga harus memohon maaf kepada seluruh korbannya dengan atau tanpa syarat, dan mengembalikan seluruh hasil curiannya. Jika korbannya sudah meninggal maka diselesaikan dengan ahli warisnya. Dan jika juga tidak ada maka dibelanjakan untuk kemaslahatan umat. Sama halnya dengan koruptor, karena keduanya sama-sama maling,.
Lebaran bagi koruptor tidak lain adalah moment untuk bertaubat. Karenanya dalam berhalal bi halal hendaknya dia membeberkan korupsi yang dilakukannya disertai dengan pengembalian seluruh hasil korupsinya, sekaligus turut menyelesaikan seluruh dampak sosio-ekonomi yang ditimbulkan oleh perbuatannya tersebut. Jadi tidak hanya cukup dengan permohonan maaf dan tetap membiarkan kerusakan sistem yang diakibatkan oleh perbuatannya.
Memang tampak berat, tapi setimpal dengan beratnya kejahatan yang dilakukan. Dan ini merupakan satu harga mahal yang harus dibayar demi mencapai kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat, seperti yang tertuang dalam do’anya setiap habis shalat (rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah).
Tetapi tampaknya bukan prasyarat yang cukup memberatkan ini yang membuat para koruptor enggan untuk bertaubat. Ketercorengan “harga diri” di hadapan masyarakat mengalahkan rasa malunya (haya’) di hadapan Allah. Alpa pada laranganNya agar tidak menjual agamanya demi kepentingan duniawi semata, dan tentang tanggungjawab personal di hadapanNya.
Penegasan terakhir tersebut meneguhkan sikap naif para koruptor “hidup adalah permainan.” Alih-alih mereka menampakkan kesadaran religiusnya saat berlebaran dan berhalal bi halal. Mereka malah menjadikannya sebagai bagian dari permainannya. Logika kembali pada fitrah dijadikan momentum untuk merasa bahwa dirinya benar-benar telah bersih, termasuk dari kejahatan korupsi. Sehingga pasca Idul Fitri korupsinya menjadi semakin menggila.

PENDIDIKAN ISLAM : ALTERNATIF DAN SOLUSI



PENDIDIKAN ISLAM : ALTERNATIF DAN SOLUSI

  
Dawut Maulan
Guru MAN Kediri II Kota Kediri

Pendidikan tidak hanya diperoleh di bangku sekolah. Di dalam keluarga seorang anak telah mendapat pendidikan. Sentuhan kasih sayang ibu saat menyusui, memandikan, menidurkan dll., sudah merupakan tingkat pendidikan tersendiri bagi anak..Lingkungan di sekitar tempat tinggal juga memberikan nilai-nilai pendidikan buat si anak. Bahkan, lingkungan memberikan porsi yang lebih besar dalam memberikan pendidikan dibanding sekolah. Sebab, belajar di sekolah mungkin hanya 6-8 jam, sementara belajar pada lingkungan nyaris 24 jam. Termasuk dalam pengertian lingkungan di sini adalah program-program radio dan televisi serta berbagai bentuk media yang lain.
Secara formal, orang belajar di institusi yang disebut sekolah. Mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Institusi inilah yang terus disorot oleh banyak pihak, karena memang institusi itulah yang mengurusi dan melahirkan berjuta bahkan bermiliar orang. Jadi, tanggungjawab besar ada di tangan sekolah, tepatnya di pundak pihak-pihak yang mengotaki strategi pendidikan.
Lalu apa ukuran sukses tidaknya sekolah? Ibarat perusahaan, sekolah adalah tempat produksi, sehingga untuk menilai sukses atau tidaknya dapat melihat pada tingkat kualitas kepribadian yang dihasilkan. Apakah pribadi-pribadi itu menjadi lebih baik atau justru menjadi liar? Ironisnya, catatan menunjukkan bahwa tingkat krisis kepribadian dikalangan pelajar kian naik. setidaknya dapat kita lihat dari masalah-masalah sosial yang ditimbulkan oleh mereka. Tawuran antar pelajar misalnya, sampai saat ini masih terjadi, bahkan bentuk tawuran mereka semakin cenderung membrutal. Pelaku tidak lagi main pukul, tapi juga menghilangkan nyawa. Penggunaan obat-obat terlarang juga terus menunjukkan gejala yang memprihatinkan. Selain itu masalah prilaku seksual pranikah, kesopanan dan kualitas akademik juga belum menunjukkan gejala yang kurang sehat.
Masalah menuntut ilmu termasuk masalah yang sangat besar dalam pandangan Islam. Mengenyam pendidikan dalam kaca mata Islam bukanlah untuk sekedar prestasi semata, tapi adalah kewajiban setiap muslim. Baik itu ilmu-ilmu teknis (sainstek) apalagi ilmu-ilmu agama. Rasulullah Saw. bersabda: “Tuntutlah ilmu walau di negeri cina.” Sabda ini menunjukkan agar umat Islam “haus” akan ilmu. Bukan hanya ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu umum. Kenapa? Karena jelas, di negeri cina tidak bakal dijumpai ilmu agama (tsaqofah).
Sebagai kompensasi wajibnya menuntut ilmu, maka Islam mewajibkan kemudahannya. Yaitu negara harus mampu menekan seminim mungkin biaya pendidikan bagi masyarakat, bahkan kalau bisa Cuma-Cuma. Semua warga negara harus mendapatakan pendidikan dari negara sebaik-baiknya. Negara tidak boleh menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan. Meski menyediakan pendidikan merupakan kewajiban negara, tetapi pihak swasta juga diperbolehkan untuk menyediakan sarana pendidikan.
Islam memang satu tatanan kehidupan yang khas. Dalam masalah pendidikan, Islam menetapkan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian muslim. Pelajar diharapkan memiliki pola pikir (aqliyah) yang Islami dan sikap jiwa (nafsiyah) yang juga Islami. Jadi sekolah bukan semata-mata transfer ilmu. Setiap pelajar akan dilatih bersikap kritis. Bukan hanya pandai menguak fakta yang ada di depan mereka, tapi juga menguak tabir di balik semua peristiwa.
Sebagai contoh, waktu kita kecil dulu, saat guru menerangkan proses terjadinya hujan, guru hanya menerangkan fenomena alamnya belaka. Karena panas, maka air akan berubah menjadi uap air yang terbang ke udara. Uap air yang berkumpul akan menjadi awan, lalu awan-awan ini selanjutnya akan menimbulkan hujan. Titik sampai di situ. Lalu di mana peran Allah Swt. dalam “melahirkan” hujan? Wah, itu tugas guru agama yang menerangkan, sayakan guru IPA, begitu kira-kira jawaban kebanyakan guru. Repotkan! Maka wajar kalau pendidikan sekarang jauh dari nilai-nilai agama. Atau waktu mengajarkan nilai-nilai moral, yang menjadi acuan kenapa harus berbuat baik? Jawabannya tidak akan lebih dari “memang seharusnya begitu” atau karena untuk “nilai-nilai kemanusiaan”. Padahal dalam Islam, berakhlak baik adalah bagian dari hukum syara’, kalau tidak berbuat ya dosa.
Kerancuan berikut yang ada pada sistem pendidikan sekarang adalah mencampuradukkan sains murni dengan ajaran yang mengandung muatan ideologis. Teori Darwin misalnya, atau teori abiogenesis dan biogenesis sudah bukan lagi terkategori ilmu murni, tetapi filsafat murni yang bertentangan dengan Islam.
Karena tujuan pendidikan Islam, adalah melahirkan kepribadian Islam, maka kurikulum yang dibuatpun mengacu ke sana. Pelajaran-pelajaran mengenai tauhid dan hukum syara’ merupakan porsi utama, bahkan sejak tingkat dasar. Sementara pelajaran-pelajaran yang bermuatan ideologi asing hanya akan diajarkan pada tingkat perguruan tinggi. Itupun dipelajari untuk “ditelanjangi” kebobrokannya. Bukan dijadikan acuan hidup.
Lalu bagaimana nasib guru dalam pendidikan Islam? Mereka dijamin hidup lebih sejahtera. Mereka juga mendapatkan pelayanan ekstra dari negara. Dalam hal ini terdapat contoh yang sangat baik dari Khalifah Umar bin Khattab di mana beliau telah menggaji guru anak-anak sebesar 15 dinar perbulan. Satu dinar senilai dengan 4,25 gram emas. Kisah lain dari Khalifah Ar Rasyid misalkan, menilai karya tulis para cendikiawan Islam dengan unik. Beliau menimbang buku-buku lalu membayarnya dengan emas seberat buku-buku itu. Bisa dibayangkan kalau buku-buku dibuat berjuz-juz, semakin makmurnya para cendikiawan itu.
Selain guru orang tua juga memegang peranan penting dalam pendidikan. Bahkan itu menjadi bagian dari kewajiban orang tua terhadap anaknya. Masalah pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah dan orang tua, tapi juga lingkungan alias negara. Lingkungan juga harus mendidik pelajar agar tidak liar. Biar diajarkan akhlak setinggi apapun, sementara diluar sana degradasi akhlak menggila. Ya sia-sia saja donk.
Nah, begitulah kira-kira Islam menjawab masalah pendidikan. Kapan kita akan beralih menuju perbaikan sistem pendidikan Islam?